CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Thursday, March 15, 2012

The hectic month with some choice

Agak sok-sokan sih, but I just wanna say, this March is a hectic month! -_- hahaha. Pasalnya, ada empat tanggung jawab berbeda yang harus gue emban di bulan ini (bahkan ada yang sampai bulan depan). Pertama, selepas panitia valentine, tanpa di sangka-sangka ternyata Panitia Paskah 2012 sudah terbentuk, dan gue...begitulah :') Semoga gue sanggup, AMIN. Akhirnya, beberapa minggu ini dibuka dengan rapat rapat dan rapat. Agenda mungil gue penuh dengan coretan-coretan kecil sebagai "alarm" untuk rapat :')

Selanjutnya, hal yang menurut gue bukan sebuah kewajiban atau keharusan, tetapi lebih ke pilihan. Tidak lain dan tidak bukan adalah, kuliah. Kenapa gue bilang kuliah itu pilihan? Yaa karena untuk menjalaninya tergantung diri kita masing-masing. Do it or leave it. Kalau kuliah menjadi sebuah keharusan, adanya malah keterpaksaan yang bisa berakhir dengan kegagalan. Gitjuuu hehehe. Tapi mungkin opini kita beda-beda yaa :)
Oke, back to problem. Kuliah. Dulu gue berpikir, semakin tinggi tingkatan semester, kegiatan perkuliahan pun akan semakin sedikit, semakin mudah, and automatically semakin santai. A classical thought! Huf. Nyatanya tidak demikian begitu saudara-saudara! Semester kemarin gue kuliah dari Selasa-Jum'at doang, namun semester ini gue kuliah Senin-Jum'at, walaupun ga full day tapi oh tapi itu tetep aja, sesuatu, hahaha. Dan tentu saja kalau ada kuliah, pasti ada tugas, seperti mentega dan selai. Gue heran aja, hampir semua mata kuliah tugasnya adalah presentasi di minggu ke 6 dan 7 a.k.a 2 minggu sebelum UTS. Pada dasarnya sih gue bisa terima, secara gue emang anak komunikasi, kalau ga bisa ngomong atau presentasi, mau jadi apa gue nanti? Tapi tapi tapi kenapa harus di minggu yang bersamaan seeeeehhhhhh? Huah, plis plis plis Tuhan help me :(

Dan sebagai seorang mahasiswa, adalah pilihan juga ketika kita memutuskan untuk bergabung dalam organisasi-organisasi di kampus (maksudnya kayak UKM gitu). Gue pun begitu. Dahulu kala, jaman-jamannya semester awal, gue sangat anti untuk ikut organisasi-organisasi kemahasiswaan di kampus dan memilih untuk berdiam diri menikmati hidup di kosan. Tapi seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (ga nyambung euy!) akhirnya gue memutuskan untuk
"menelan ludah sendiri" hahahaha. 1 organisasi, 2, 3, daaan seterusnya sampai hari ini. Dan saat ini gue "menyandang" salah satu pengurus di sebuah organisasi mahasiswa Kristen di kampus gue. Tentu saja, gue punya job desk yang harus gue jalankan. Dan itu seperti tugas mingguan yang selalu ada dan tidak mungkin tidak ada :')

Untuk yang terakhir, ini juga sebuah pilihan. Sebagai mahasiswi ilmu komunikasi, gue merasa ga cukup hanya dengan teori-teori tentang komunikasi di perkuliahan. Then, apa "bedanya" gue dengan teman-teman yang lain yang notabene kita sama-sama belajar komunikasi? Gue "ga mau" dong menjadi biasa-biasa aja dan sama dengan mereka. Gue harus bisa menjadi luar biasa dari yang lainnya, luar biasa yang positif tentunya :) Akhirnya, gue putuskan untuk ikut les Mandarin. Hahaha. Random abis. Jadi ceritanya, gue udah sempat dapat mata kuliah Mandarin waktu di kampus. Tapi hanya sampe semester 2 doang. Sayang kan, ilmunya udah dapet (walau sebatas dasar-dasarnya doang). Makanya gue pengen ngelanjutin "ilmu nanggung" itu, hahaha. Kebetulan Atika dan Corel juga mau ikut. Barengan deh kita les Mandarin level 1 di EEP Bandung :D Sejauh ini sih, gue ngejalaninnya emang happy happy aja, apalagi lesnya kan malem jadi ga begitu mengganggu kuliah. Hehehe. Semoga ilmunya bermanfaat ya untuk masa depan nanti, Amin. Hanya sajaaa, beberapa minggu ini lagi jaman-jamannya ujian dan setiap mau ujian gue ngerasa kayak ga ada persiapan yang matang saking sibuknya gue di hal-hal yang lain. Kalau nilainya jelek, gue ngerasa rugi aja gitu :|

See, cukup hectic kan?


But, ternyata semua yang sedang gue jalani di atas adalah sebuah pilihan. Parahnya, akhir-akhir ini gue lebih sering bersungut-sungut sama hal yang telah menjadi pilihan gue. Gue merasa terlalu "terbebani". Padahal Tuhan "meng-acc" pilihan kita, berarti Dia pasti akan memberikan kita kapasitas dan kekuatan untuk menjalani dan menyelesaikannya. Puji Tuhan, gue cepet sadar, hehehe. And now, gue mau lebih enjoy menjalani semuanya tanpa bersungut-sungut.

So people, be aware sama hal-hal tertentu yang sedang kita jalani saat ini atau nanti. Sesungguhnya, semua itu adalah sebuah pilihan. Mau menjalaninya atau tidak. Mau kuliah atau ga, mau makan atau ga, mau hidup atau ga, itu semua pilihan. Dan ketika kita sudah memilih, jangan bersungut-sungut! Di dunia ini hampir tidak ada sesuatu hal yang dipaksakan untuk kita jalani. Ketika kita merasa nyaman menjalani sesuatu yang kita pilih, hampir 99% pilihan kita sudah benar. Tinggal bagaimana kita me-manage semuanya dengan baik. And the foremost, selalu libatkan Tuhan dalam setiap pilihan kita, karena sumber segala kekuatan hanya ada pada-Nya. Selamat memilih dan menjalani pilihan kita masing-masing ya!

God bless us :)

Monday, March 5, 2012

Itulah aku, untuk dia


Ketika dia bahagia, aku pun bahagia.
Namun.
Ketika dia sakit, aku tidak boleh sakit. Karena aku harus merawatnya.
Ketika dia bersedih, aku tidak boleh ikut bersedih di depan dia. Karena aku harus menghiburnya.
Ketika dia menangis, aku tidak boleh menangis bersamanya. Karena aku harus menghapus air matanya.
Ketika dia bimbang, aku tidak boleh bimbang. Karena aku harus memegangnya.
Ketika dia lemah, aku tidak boleh lemah. Karena aku harus menguatkannya.
Ketika dia tidak bersemangat, aku tidak boleh kehilangan semangat. Karena aku harus menyemangatinya.
Ketika dia lelah, aku tidak boleh lelah. Karena aku harus menopangnya.
Ketika dia kehilangan arah, aku tidak boleh kehilangan arah. Karena aku harus menuntunnya kembali.
Ketika dia sendirian, aku tidak boleh pergi. Karena aku harus menemaninya.
Ketika dia hampa, aku tidak boleh hampa. Karena aku harus mengisinya.
Dan.
Ketika dia menyakitiku, aku tidak boleh menyakitinya. Karena aku menyayanginya.
Itulah aku, untuk dia.


Wednesday, February 29, 2012


"IF YOU LET ME PLAY SPORTS"

I will like myself more. I will have more self-confidence. I will be 60 percent less likely to get breast cancer. I will suffer less depression. I will be more likely to leave a man who beats me. I will learn what it means to be strong.
...
Nike Sports

Tuesday, February 28, 2012

The Measure of Kindness

Masing-masing orang punya definisi "baik" yang berbeda-beda. Kita memiliki sudut pandang yang berbeda satu sama lain untuk mendefinisikan "baik" itu seperti apa. Lebih spesifik lagi mungkin, "orang baik" itu seperti apa. Kalau menurut gue sendiri, "orang baik" adalah mereka yang melakukan hal-hal yang menyenangkan hati dan menguntungkan -dan kalau memang harus- dengan cara yang menyakitkan sekalipun. Kalau mereka adalah "orang baik" di mata kita, berarti kita mengganggap bahwa mereka sudah melakukan suatu kebaikan kan?

Emang sih setiap manusia memiliki kadar kebaikan yang ga sama. Dan gue percaya, all of us sebenarnya mampu untuk melakukan kebaikan. Entah baik yang memang tulus atau hanya berpura-pura (itupun sudah menunjukkan bahwa sebenarnya memang bisa berbuat kebaikan). Over all, semua manusia di dunia ini sangat layak mendapat predikat "orang baik". Gue hanya penasaran aja, kenapa bisa muncul pernyataan klasik yang berbunyi "baik itu relatif..."? Relatif yang seperti apa? Gue juga ga paham :'''

A: "Makasih ya Reni, udah dianterin pulang, kamu baik banget deh..."

B: "Gila! Pengawas ujian gue baik banget, kerjanya sms-an mulu, bisa nyontek deh kita!"


Apa kesamaan arti kata "baik" dari dua kalimat di atas? Ya. Secara tersirat, keduanya sama-sama menyiratkan bahwa orang yang dikatakan baik adalah orang yang dapat memenuhi keinginan/kebutuhan serta harapan kita. Apapun itu. Semua orang yang sesuai dengan ekspektasi kita akan mendapat tempat di hati kita untuk diberikan predikat "baik". Tapi terlihat jelas kan, masing-masing punya the real meaning of "kind" yang berbeda. Dalam pernyataan si A, dia bilang kalau Reni baik. Jelas banget Reni dibilang baik, dia kan udah nganterin si A (entah ke rumah atau kemana). Gue pun juga seneng banget kalau ada yang bersedia nganterin gue pulang dari Dakol ke Cisitu, hahahaha. Bandingin sama pernyataan si B. Dalam hal ini, B memberikan predikat "baik" untuk pengawas ujiannya karena memberikan peluang dan tentunya kesempatan untuk menyontek saat ujian.


Honestly, sampai saat ini gue sendiri masih menjadi bagian dari kedua jenis pemberian-predikat-orang-baik di atas. Kadang gue memberikan predikat "baik" pada orang yang tepat, tapi kadang juga pada orang yang tidak tepat. Ketika ada orang melakukan hal-hal yang menguntungkan gue -padahal sebenarnya bukan hal yang baik- pasti gue akan memberi predikat "orang baik" sama dia. So guys, kadang kita suka menerima segala perbuatan baik orang yang sebenarnya tidak menguntungkan diri kita sama sekali. Atau bahkan melakukan hal yang kita anggap baik untuk orang lain padahal sebenarnya tidak juga memberi manfaat yang berarti. Contoh kasus aja, berbohong untuk melindungi teman (atau biasa di sebut a white lie), memberikan contekan sama teman ketika ujian, daan lain-lain. Tapi sebenarnya yang lebih menyakitkan adalah ketika kalian sudah melakukan hal untuk kebaikan orang lain (sebut aja sahabat atau teman), tapi mereka malah mengganggap itu bukan sebuah kebaikan. Jadi, apa ukuran kebaikan yang sesungguhnya?


There are other opinion about the measure of kindness? :)

Tuesday, February 21, 2012

Lalalalalaaa~

I hate it!
I hate the way you're always right.
I hate when you make a tears in my eyes.
I hate when you lie, even your white lie.
I hate when you're not around and the fact that you don't call or text me.
I hate when you try helping me to forget you.
Hate you, it makes me sick, so deeply.
But obviously, I hate the way I don't hate you, not even close, not even a little bit, not even at all.
Lucky you.